Selamat Datang di Blog Pagaruyungtour...... Kami mengajak anda Menikmati Paket Wisata menusuri Sejarah, Budaya dan Keindahan Alam Minang Kabau....Pilih Paketnya sekarang juga!.....Get the unforgetable journey! Join us now!...Contact : +62 812 6618 717, +6285669056158 atau Email: pagaruyungtour@gmail.com

Kamis, 24 Maret 2011

Pacu Jawi

       Pacu berarti lomba kecepatan dan Jawi maksudnya Sapi atau Lembu. Di Sumatera Barat sapi biasa disebut dengan Jawi.  Kegiatan Pacu Jawi merupakan acara permainan tradisional anak nagari (desa) yang lahir dan berkembang di Kabupaten Tanah Datar Propinsi Sumatera Barat.  Kegiatan ini hanya ada di Kabupaten Tanah Datar dan sedikit di Kabupaten 50 Kota.  Di Kabupaten Tanah Datar-pun hanya pada empat kecamatan, yaitu Kecamatan Pariangan, Kecamatan Rambatan, Kecamatan Lima Kaum dan Kecamatan Sungai Tarab.

       Kegiatan pacu jawi telah ada sejak ratusan tahun yang lalu dan menjadi sarana hiburan yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat setempat. Pada kegiatan ini juga dipadukan dengan tradisi masyarakat berupa arak-arakan (pawai) pembawa dulang/jamba yang berisi makanan dan arak-arakan jawi-jawi terbaik yag didandani dengan asesories berupa suntiang serta pakaian.  Biasanya acara tradisi ini diselenggarakan pada minggu ke-IV atau pada waktu penutupan pacu jawi dan menjadi perhelatan yang besar di daerah itu.  Pada waktu itu juga diadakan prosesi adat oleh para tetua adat serta berbagai permainan seni budaya tradisional
Di arena pacu jawi juga bertumbuhan warung nasi yang menjual kopi daun, para pedagang kaki lima serta arena permainan anak-anak sehingga lokasi itu terlihat seperti pasar. Pada waktu itulah masyarakat bergembira ria menyaksikan jawi-jawi kesayangan mereka berpacu, dan setelah itu mereka makan di warung-warung dengan makanan spesifik gulai kambing dan kopi daun.

       Pelaksanaan alek pacu jawi di Kabupaten Tanah Datar dilaksanakan secara bergiliran pada empat kecamatan.  Acara dilakukan di sawah milik masyarakat setelah selesai masa panen dan tempatnya tidak tetap pada satu lokasi saja.  Bila kegiatan diadakan pada satu kecamatan maka peserta dari kecamatan lain akan berdatangan.  Dalam satu masa perlombaan, jumlah jawi yang berpacu mencapai 500 hingga 800 ekor. 




               Pacu jawi diikuti oleh jawi secara berpasangan yang dikendalikan oleh seorang anak joki yang berpegangan pada tangkai bajak. Anak joki dengan tidak memakai alas kaki ikut berlari bersama jawinya di dalam sawah yang penuh lumpur dan air.  Acaranya berlansung mulai pukul sepuluh pagi hingga pukul lima sore.  Pada waktu perlombaan berlansung kadangkala juga terjadi transaksi jual beli jawi oleh para pedagang dan pemilik jawi.  Biasanya jawi yang telah sering memenangkan lomba akan naik harganya hingga dua kali lipat. Jawi pemenang itu akan menjadi kebanggaan bagi pemiliknya dan diincar oleh banyak orang.  Itupun menjadi lambang prestise.
Banyak orang yang belum tahu bagaimana cara penilaian jawi terbaik yang menjadi pemenangnya.  Teknis penilaian inipun penuh filosofi dan nilai-nilai yang baik.  Adapun jawi terbaik adalah jawi yang dapat berjalan lurus tidak miring dan tidak melenceng ke mana-mana.  Dan akan lebih baik lagi apabila jawi tersebut dapat menuntun temannya berjalan lurus.  Berarti jawi itu sehat dan tubuhnya kokoh kuat.  Biasanya dalam satu perlombaan akan terlihat jawi yang berjalan lurus dan yang tidak, bahkan ada yang sampai masuk ke sawah lain. Jadi yang dinilai bukan hanya kencang larinya dan bukan bentuk struktur tubuhnya saja. Filosofinya jawi saja harus berjalan lurus apalagi manusia. Dan manusia yang bisa berjalan lurus tentu akan tinggi nilainya, itulah pemenangnya.

Beberapa manfaat dari pelaksanaan pacu jawi adalah  :
1. Sebagai wadah untuk meningkatkan harga jual jawi sehingga dapat meningkatkan perekonomian peternak.  Kemunian juga  sebagai media untuk meningkatkan kesehatan jawi karena jawinya akan sehat setelah berpacu,
2. Pada acara pacu jawi banyak bermunculan para pedagang sehingga meningkatkan perputaran roda ekonomi yang dapat pula meningkatkan perekonomian masyarakat,
3. Acara pacu jawi menjadi sarana sosialisasi dan hiburan bagi masyarakat yang selalu ditunggu-tunggu,
4. Sebagai alek tradisi masyarakat dimana akan terjadi prosesi adat sebagai aktualisasi nilai-nilai adat di tengah-tengah masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Tanah Datar secara konsisten membina dan mempertahankan kegiatan pacu jawi ini sesuai tradisi dan kebiasaan masyarakat.  Pemerintah lebih banyak memfasilitasi ataupun membantu mengemas acara ini menjadi lebih baik sehingga bisa dipromosikan dan dijual kepada para wisatawan nusantara dan mancanegara Sebagai organisasi pengelolanya pada masyarakat sudah ada PORWI (Persatuan Olah Raga Pacu Jawi)  yang ada pada tingkat kabupaten, kecamatan hingga nagari (desa).  PORWI inilah yang mengkoordinir jadwal pelaksanaan secara bergiliran.

Sekilas Tentang Tanah Datar

Kabupaten Tanah Datar merupakan salah satu dari 19 Kabupaten/ Kota di Sumatra Barat dengan ibu kotanya Batusangkar. Daerah yang berhawa sejuk ini terletak tepat di tengah – tengah Propinsi Sumatera Barat sehingga mudah dijangkau dari kota lain seperti Bukititnggi, Payakumbuh, Sawah Lunto, Sijunjung, Solok dan Padang Panjang dengan batas – batas  wilayah sebagai berikut:

Utara                : Kabupaten Agam dan Kabupaten Lima Puluh Kota
Selatan             : Kabupaten Solok dan Kota Sawah Lunto
Timur               : Kabupaten Sawah Lunto/ Sijunjung
Barat                : Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Padang Panjang

Tanah Datar merupakan daerah tujuan wisata di Propinsi Sumatera Barat karena memiliki potensi objek dan daya tarik wisata yang beraneka ragam. Tanah Datar memiliki wisata alam, wisata sejarah, wisata bahari, wisata budaya, atraksi seni tradisional dan daya tarik wisata lainnya yang jumlahnya sekitar 150 buah.

Disini masih ditemukan Atraksi tradisional yang merupaka tradisi anak nagari yang sangat spesifik yang masih dilestarikan antara lain berupa tari – tarian, lukah gilo, Alu Katentong, Pacu Jawi dan Pacu Kuda

Luhak Nan Tuo adalah nama lain dari Tanah Datar karena adanya suatu keyakinan bagi masyarakat Minang Kabau bahwa Tanah Datar merupakan daerah tempat asal usul orang Minang Kabau. Sebagai buktinya, ditemukan perkampungan tua yang disebut Nagari Tuo Pariangan yang berlokasi di Nagari Pariangan Kecamatan Pariangan yang berjarak + 14 km dari kota Batusangkar. Dari sinilah kemudian orang Minangkabau berkembang dan berpindah ke daerah lain yakni Luhak 50 Kota dan Luhak Agam.

Selain itu di Tanah Datar banyak ditemukan peninggalan sejarah adat Minagkabau baik berupa benda maupun tatanan budaya adat. Masyarakat Tanah Datar dikenal kuat memegang ajaran adat Minangkabau dan agama islam yang dikenal dengan Sumpah Satie Marapalam yang berbunyi; ” Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”

Secara geografis wilayah Kabupaten Tanah Datar terletak ditengah – tengah propinsi Sumatra Barat, yaitu pada 17 LS – 29 LS dan 100 19 BT – 100 51 BT. Ketinggian rata-rata 400 sampai 1000 meter diatas permukaan laut.

Kabupaten Tanah Datar terletak diantara dua gunung yaitu Gunung Merapi dan Gunung Singgalang. Daearah Kabupaten Tanah Dtar didominasi oleh daerah perbukitan serta memiliki dua pertiga bagian danau Singkarak.

Jarak tempuh Batusangkar dengan Kota lainnya:
* Padang – Batusangkar                                   = 97 km
* Padang Panjang – Batusangkar                      = 25 km
* Bukittinggi - Batusangkar                               = 40 km
* Solok – Batusangkar                         = 51 km
* Sijunjung – Batusangkar                                 = 40 km
* Sawah Lunto – Batusangkar              = 35 km
* Payakumbuh – Batusangkar                           = 30 km
* Pekan Baru – Batusangkar                             = 310 km
* Medan – Batusangkar                                    = 540 km
* Danau Maninjau – Batusangkar                      = 73 km



Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hosted Desktop